Pada Rabu, 25 November 2025, hujan yang sejak sore mengguyur Aceh Tamiang berubah menjadi bencana. Sungai meluap, arus deras datang dari hulu, dan dalam waktu singkat banjir besar menerjang sejumlah kecamatan, termasuk Kecamatan Karang Baru. Di wilayah inilah berdiri Pondok Pesantren Darul Mukhlisin, sebuah tempat belajar, tinggal, dan bernaung bagi banyak santri dari berbagai daerah.
Malam itu, air tidak hanya masuk perlahan. Ia datang menyerbu membawa lumpur, batang-batang kayu gelondongan, dan pusaran arus yang menghantam apa saja yang dilewatinya. Dalam hitungan menit, halaman pesantren berubah menjadi lautan cokelat yang tak lagi bisa dipijak. Gelondongan kayu besar dari hulu sungai menghantam pagar, bangunan, dan menumpuk di sekitar lingkungan pesantren, membuat kondisi semakin mencekam.
Asrama santri terendam hingga lantai dua. Ruang belajar, kamar tidur, hingga lemari pakaian berubah menjadi endapan lumpur yang tebal. Barang-barang yang selama ini digunakan santri, seperti kitab, pakaian, dan perlengkapan belajar tenggelam, hanyut, bahkan rusak tak terselamatkan. Kilat petir, suara deras arus, dan hantaman kayu membuat malam itu terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung.
Ketika air semakin naik, para santri dan warga berhamburan menyelamatkan diri. Ada yang naik ke lantai atas, ada yang mencari tempat tinggi di rumah tetangga, dan ada pula yang hanya sempat menggenggam satu-dua barang penting sebelum arus menghantam bangunan mereka. Dalam kegelapan dan kepanikan malam itu, mereka hanya bisa saling berpegangan dan berdoa agar semuanya selamat.
Ketika pagi tiba dan air mulai surut, kerusakan yang terlihat begitu memilukan. Pondok Pesantren Darul Mukhlisin tidak lagi tampak seperti lingkungan pendidikan yang damai. Lumpur menutupi hampir seluruh area. Kayu-kayu raksasa memenuhi halaman, menutup akses, dan menyulitkan siapa pun untuk masuk. Banyak bangunan rusak parah, dan hanya masjid yang tampak masih kokoh berdiri meski dikelilingi tumpukan kayu dan kotoran banjir.
Akses menuju Desa Tanjung Karang pun lumpuh. Jalan tertutup tumpukan kayu gelondongan dan lumpur tebal, membuat bantuan sulit menjangkau pesantren. Santri, warga, dan relawan mulai bekerja keras mengangkat kayu, menyekop lumpur, dan mencoba menyelamatkan apa pun yang masih bisa dipakai.
Bagi para santri, kehilangan ini bukan hanya kehilangan ruang belajar. Mereka kehilangan rumah, kehilangan tempat beristirahat, bahkan kehilangan sebagian kenangan masa belajar mereka. Namun, dari kehancuran itu, harapan tetap ada. Sedikit demi sedikit, mereka mulai bangkit. Ada yang membersihkan ruang kelas, ada yang menata kitab yang tersisa, dan ada pula yang membersihkan masjid agar kembali bisa digunakan untuk berjamaah.
Di tengah kepedihan itu, satu hal tetap hidup yaitu tekad untuk bangkit kembali. Saudaraku, Pondok Pesantren Darul Mukhlisin dan wilayah lain yang terdampak saat ini membutuhkan bantuan dari kita semua. Bangunan rusak, fasilitas belajar hancur, dan para santri kehilangan perlengkapan mereka.
Mari bersama-sama membantu meringankan beban mereka.
Setiap bantuan sekecil apapun akan sangat berarti bagi para santri yang ingin kembali belajar dan melanjutkan kehidupan mereka. Melalui Wizstren di web resmi berikut ini https://wizstren.id/program/tanggap-bencana kita bangun kembali harapan mereka.
Sumber gambar: www.bisnis.com
Penulis: Admin Wizstren
Tags:
WIZSTREN
Pesantren
Kemanusiaan
Bencana Alam
Banjir
Santri